Breaking News
recent

MEMBUJUK ORANG UNTUK MERUBAH KEBIASAAN ? oleh - ambulancesurabaya.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ambulancesurabaya.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar MEMBUJUK ORANG UNTUK MERUBAH KEBIASAAN ? oleh - ambulancesurabaya.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

jarraksehat.com, bandung 21-04-2020|22.00 â€" Persoalan orang-orang yang tidak mau mematuhi anjuran atau bahkan larangan Pemerintah dan Otoritas Kesehatan, ternyata tidak hanya ada di Indonesia saja. Masih banyaknya orang yang berkumpul di tempat ibadah, tempat-tempat hiburan dan kafe-kafe masih juga terjadi di beberapa negara.

Hari ini, 21 April 2020, hal tersebut menjadi salah satu topik bahasan dalam Harvard Business Review. Profesor Jonas Berger dari  Change Their Behavior.

Dalam awal tulisannya, dia mengatakan antara lain, : “Some people are still or have resumed congregating in groups. Some churches, with support from their local leaders, are flouting stay-at-home orders. And protesters have begun to demand that businesses reopen sooner than experts suggest”.

Hampir sama dengan situasi di beberapa negara termasuk Indonesia, ketika beberapa orang juga resisten untuk diminta tidak perlu pergi ke rumah ibadah dan ibadah cukup di rumah saja. Bahkan isu ini, yang memprihatinkan, menjadi perdebatan yang cukup hangat di beberapa WAG di Indonesia, karena sebagian orang yang terlalu sensitif dan emosional serta terbiasa selalu mengaitkan dengan interes personal/group, memandang bahwa pengungkapan fakta itu dikhawatirkan jadi mesiu untuk merendahkan pemeluk agama tertentu.

Namun kalau kita sedikit berusaha untuk membaca apa yang terjadi di manca negara, sebenarnya itu persoalan manusia di mana saja, yang dikatakan oleh Profesor Berger dengan kalimat :

“Directives aren’t particularly effective in driving sustained behavior change because we all like to feel as if we are in control of our choices. Why did I buy that product, use that service, or take that action? Because I wanted to. So when others try to influence our decisions, we don’t just go along, we push back against the persuasive attempt. We get together with a friend, shop more than once a week, don’t wear a mask. We avoid doing what they suggested because we don’t want to feel like someone else is controlling us”.

“Arahan/aturan biasanya tidak efektif untuk merubah kebiasaan yang sudah berlangsung lama, karena kita semua sepertinya seolah-olah diatur apa yang harus kita pilih.  Mengapa saya membeli produk itu, menggunakan jasa atau melakukan tindakan tertentu?  Karena saya menginginkannya. Jadi, ketika orang/pihak lain mencoba untuk mempengaruhi keputusan kita, kita tidak akan mematuhinya. Kita tolak bujukan-bujukan itu. Kita berkumpul bersama teman, berbelanja lebih dari sekali dalam seminggu, tidak menggunakan masker. Kita menolak melakukan apa yang mereka perintahkan karena kita tidak ingin merasa orang lain mengatur kita”.

Itulah salah satu buah atau dampak negatif dari demokratisasi di seluruh dunia. Ketika orang terbiasa dibiarkan melakukan sekehendak apa yang mereka maui, maka akan sulit bagi pemerintah atau otoritas dalam sektor tertentu untuk mengendalikannya, ketika kesadaran untuk melakukan pembatasan demi kepentingan publik (baca: orang banyak), belum dirasakan perlu oleh sebagian orang.

“Our innate anti persuasion radar raises our defenses, so we avoid or ignore the message or, even worse, counter-argue, conjuring up all the reasons why what someone else suggested is a bad idea”

Radar anti persuasi kita secara alami akan muncul untuk mempertahankan pendapat/sikap kita, sehingga kita menolak atau mengabaikan pesan atau bahkan melawan dengan argumen dan segala upaya bahwa saran orang lain itu adalah ide yang buruk.

Profesor Berger menawarkan alternatif merubah sikap masyarakat itu dengan upaya, yaitu, dari pada “menyarankan orang lain”, bagaimana kalau kita uibah menjadi “menyarankan dirinya sendiri”

1. Highlights the Gap

Kita tetap bisa meningkatkan perasaan kebebasan dan mengontrol diri mereka sendiri dengan memberi kebebasan kepada mereka sendiri untuk melihat perbedaan antara pemikiran dan tindakan mereka, atau apa yang akan mereka sarankan kepada orang lain _versus_ apa yang akan dilakukannya sendiri.

Misalnya dalam hal perintah untuk tetap tinggal di rumah. Apa yang akan mereka sarankan kepada saudara mereka atau kepada orang-orang tua, termasuk kepada orang tua mereka sendiri, membiarkan mereka berkeliaran dan tetap beraktifitas di luar dengan banyak orang seperti biasanya, atau tetap tinggal di rumah?

Menurut Profesor Berger,”People strive for internal consistency” orang akan (berjuang) (cenderung) untuk berlaku konsisten antara pemikiran dan perbuatannya. Dengan ditantang seperti itu terus menerus, kebanyakan orang normal akan berusaha untuk menyesuaikan antara pemikiran mereka sesuai dengan tindakannya.

Dalam sebuah uji coba di Thailand, dipraktekkan bagaimana strategi mengurangi kebiasaan merokok orang-orang dewasa.  Beberapa anak kecil diujicobakan untuk meminta rokok dan api dari orang-orang dewasa yang sedang merokok di tempat umum.  Mayoritas orang-orang dewasa itu menolak memberikan api dan menasihati si anak untuk tidak merokok. Hal yang sama dilakukan terus berulang ulang, hingga mengurangi tingkat kebiasaan orang dewasa merokok di tempat umum.

Ketika orang ditantang terus menerus dengan merasakan perbedaan antara pemikiran (yang baik) dan tindakannya (yang buruk), maka secara perlahan orang akan cenderung untuk mencoba konsisten. Konsisten untuk tindakannya dengan pemikirannya yang baik.  Itulah people strive for internal consistency. Kalau tidak, dia akan merasa ada konflik terus dalam dirinya, karena adanya pertentangan antara pemikiran dan perbuatannya

2. Pose Questions

Strategi kedua yang ditawarkan oleh Profesor Berger adalah dengan mengajukan pertanyaan, dari pada membuat statemen yang menghakimi.

Misalnya, Junk food membuat anda gemuk, atau Merokok membunuhmu.  Dia menawarkan alternatif pertanyaan, ‘Apakah junk food membuat gemuk?’

Apabila orang yang ditanya menjawab “tidak”, dia akan berargumen dengan mencari jawaban-jawaban yang rasional menurutnya. Proses ini akan membuat dia mempelajari dengan seksama, apakah jawabannya tersebut benar atau tidak.

Pertanyaan tersebut merubah peran orang tersebut, dari objek yang dituduh dan disalahkan menjadi subyek yang menentukan sendiri keinginannya, berdasarkan pengetahuan yang telah digalinya. Apapun keputusannya, dia tidak merasa bahwa dia diatur untuk secara total menghindari ‘junk food’ The answer to the question isn’t just any answer; it’s their answer, reflecting their own personal thoughts, beliefs, and preferences. That makes it more likely to drive action.

Dalam kaitannya dengan situasi saat ini, bisa saja perintah untuk untuk tetap tinggal di rumah, menggunakan masker atau cuci tangan itu dibuat dalam bentuk pertanyaan kepada mereka untuk bisa menjawabnya sendiri. “Apakah menurut anda, tinggal di rumah itu perlu?” “Bagaimana perasaan anda jika orang yang anda kasihi itu terpapar covid?” “Apa kira kira penyebabnya?”

3. Ask for Less

Strategi yang ketiga adalah mengurangi secara bertahap intensitas atau frekuensi atau volume apa yang selama ini selalu dilakukannya.

Pelarangan tidak secara drastis, tidak boleh berkumpul sama sekali, tetapi misalnya dengan tawaran untuk membuat kelompok-kelompok kecil terlebih dahulu yang bisa dikelola. Setelah terbiasa kemudian kelompoknya diperkecil lagi dengan tetap mematuhi aturan    

  ‘social distancing’

hingga akhirnya total harus tinggal di rumah.  

A better approach is to dial down the initial request. Ask for less initially, and then ask for more. Take a big ask and break it down into smaller, more manageable chunks.

Pengurangan yang ditawarkannya juga dengan membuat waktu pembatasan yang tidak terlalu lama, tapi kemudian memperpanjang lagi sampai dengan masa tertentu. Itu yang sedang dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara. Government officials responding to the pandemic are already doing this to some extent by setting initial end dates for social distancing measures, then extending them.

Hal-hal diatas adalah beberapa teori tawaran yang ditulis Profesor Berger. Bisa jadi untuk kasus covid ini, hal itu tidak bisa diberlakukan sama dengan pendekatan untuk kasus lainnya seperti contoh yang ditulis Berger. Namun dari beberapa pemikiran dan contoh yang disampaikan, kita dapat belajar dan mencobanya.

Hal yang lebih penting lagi bagi kita bahwa persoalan masyarakat yang bandel, tidak patuh pada himbauan atau larangan itu tidak hanya terjadi di negeri kita. Kalau kita luangkan waktu untuk membaca atau menonton siaran berita dari seluruh dunia, hal-hal yang kita alami disini juga terjadi di negara lainnya di dunia. Tapi bukan berarti kita permisif dan membiarkan hal itu terjadi ketika menyangkut kepentingan (nyawa) orang banyak.

Secara eksponensial, kita yang mempunyai kesadaran ini, juga bisa membentuk jejaring luas yang terus berkembang, membangun masyarakat yang sadar untuk tidak menjadi bagian dari penyebar virus.

Kesadaran kita tidak harus muncul hanya ketika orang-orang terdekat kita terpapar.

HS

Itulah tadi informasi dari situs judi online mengenai MEMBUJUK ORANG UNTUK MERUBAH KEBIASAAN ? oleh - ambulancesurabaya.xyz dan sekianlah artikel dari kami ambulancesurabaya.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

topglobal99

topglobal99

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.